Meningkatkan Motivasi Kerja dan Performa Bisnis Pasca Lebaran

By Audi Lumbantoruan on May 19, 2022

Setelah dua tahun diterpa pandemi, Lebaran tahun 2022 ini menjadi momen pertama di mana kita semua dapat kembali mengunjungi sanak saudara di kampung halaman masing-masing. Rasa senang dan antusias tentu memenuhi momen ini, tetapi ada kecemasan juga yang diam-diam menghantui.

Meskipun beberapa perusahaan di Indonesia telah menerapkan kebijakan work from anywhere (WFA) permanen, nyatanya masih banyak perusahaan yang memiliki wacana kembali WFO setelah Lebaran. Hal inilah yang menjadi dasar webinar EngageRocket bertajuk Managing RTO: Effective Ways to Boost Employee Motivation yang diadakan pada hari Rabu, 11 Mei 2022.

Webinar ini mengundang tiga praktisi HR senior yaitu Iin Sri Marsutji (General Manager Human Resources, Morula IVF Indonesia), Albert Oktovianus (VP HR SSG di sebuah perusahaan asuransi terkemuka), dan Ceylonita Kekung (HR Director, PT Kredit Pintar Indonesia).

Meski sudah ada wacana, kepastian lini waktu transisi dari WFH ke WFO umumnya masih kurang jelas, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan karyawan. Survei pun menunjukkan 63% karyawan kini merasa tidak yakin dengan strategi kembali WFO yang dicanangkan perusahaan. Lalu, apa efeknya terhadap motivasi kerja dan performa bisnis?

 

Atrisi Massal atau Rekrutmen Massal?

Dalam presentasinya, Iin Sri Marsutji menyampaikan hasil dari sebuah survei yang diadakan di Q3 2021: 64% karyawan mempertimbangkan untuk resign walau belum mendapatkan pekerjaan baru, dan 40% karyawan berniat resign dalam waktu 3–6 bulan, atau sekitar Q1 dan Q2 2022 – berdekatan dengan momen Lebaran.

Momen setelah Lebaran dirasa sebagai waktu yang tepat untuk mengundurkan diri karena tunjangan hari raya (THR) sudah cair dan banyaknya lowongan pekerjaan yang tersedia – sebab banyak karyawan perusahaan lain yang juga resign. Hal ini seperti sebuah siklus: makin tinggi atrisi karyawan, makin banyak juga lowongan kerja.

Fakta ini juga didukung oleh data yang dikumpulkan dalam salah satu event EngageRocket sebelumnya. Dari seluruh praktisi HR yang berpartisipasi, 62% meyakini bahwa tingkat keterlibatan karyawan (employee engagement) menurun setelah pembagian THR. Padahal, employee engagement sangat berpengaruh terhadap employee experience (EX), di mana EX sendiri mampu mendorong produktivitas kerja dan retensi karyawan, sehingga performa bisnis pun meningkat – bahkan mampu menaikkan revenue hingga lima kali lipat.

Untuk itu, organisasi perlu memahami betul penyebab menurunnya motivasi kerja. Penting untuk dipahami bahwa gaji bukanlah penyebab utama kejenuhan karyawan. Sebaliknya, karyawan ingin usaha dan pekerjaan mereka lebih dihargai lagi oleh manajer dan perusahaan.

 

Memitigasi Tantangan yang Dihadapi Organisasi dalam Transisi ke WFO

Banyak tantangan yang dihadapi oleh organisasi dalam proses kembali WFO, sehingga menimbulkan ketidakpastian jadwal transisi dan kebingungan di antara karyawan. Albert Oktovianus membagikan beberapa poin penting yang dapat dilakukan tim HR dan pimpinan organisasi untuk memitigasi hal tersebut:

  • Meningkatkan empati dan kepercayaan satu sama lain meski terhubung secara digital
  • Jaga komunikasi di semua fase dan ciptakan kesempatan untuk berkontribusi
  • Buat project management yang seragam untuk tim atau seluruh organisasi
  • Terapkan pola pikir bertumbuh dan dukung semangat untuk terus belajar
  • Berorientasi pada solusi, tanpa mengabaikan koneksi yang sehat antar individu.

Pernyataan di atas juga didukung oleh Ceylonita Kekung, yang menambahkan beberapa hal terkait transisi kembali WFO. Beliau menyatakan bahwa organisasi perlu melakukan pendekatan yang bersifat tulus, berempati, serta agile atau mampu beradaptasi sesuai kondisi terkini.

 

Tips Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan Pasca Libur Lebaran

Ada banyak hal dapat dilakukan oleh tim HR dan pimpinan perusahaan untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan. Terkait momen pasca libur Lebaran, tim EngageRocket telah merangkum sejumlah tips yang dapat diimplementasikan sesegera mungkin untuk mendukung karyawan agar lebih semangat bekerja serta mencegah turunnya produktivitas secara drastis dan berkepanjangan.

1. Diskusi dengan para pimpinan
Sangat penting bagi tim HR untuk berkomunikasi dengan para lead dan manajer untuk mengetahui tingkat motivasi dan keterlibatan karyawan. Tujuannya adalah agar tim HR dapat menghasilkan inisiatif dan intervensi yang tepat serta relevan dengan kondisi di lapangan.

2. Persiapkan evaluasi tengah tahun
Terkadang evaluasi karyawan justru terkesan menambah pekerjaan dan kurang efektif, terutama di organisasi yang belum mengadopsi model umpan balik menyeluruh (360 review). Ada kemungkinan terjadi bias penilaian karena karyawan dapat mengobrol langsung satu sama lain, dengan atasan, dan sebagainya.

Untuk menghindari hal tersebut serta untuk mempermudah proses evaluasi, tim HR perlu menggunakan platform yang dapat membantu mengadakan 360 review secara otomatis dan dapat dipersonalisasi seperti EngageRocket GROW. Tim HR dan manajer dapat memilih siapa saja yang dapat memberi umpan balik, sehingga evaluasi lebih adil dan mengurangi risiko bias.

3. Pantau perkembangan individu
Meski terpotong libur Lebaran, perkembangan individu boleh terhambat. Penilaian progres individu di Q2 perlu dilakukan secara berkesinambungan dengan melihat hasil dari Q1. Hal ini penting dilakukan demi mendukung karyawan agar dapat terus berkembang. Selain itu, organisasi pun dapat mendorong lagi kinerja dan produktivitas karyawan selama setengah tahun ke depan.

4. Jadwalkan survei EX dan tindak lanjuti hasilnya
Survei EX sangat penting dilakukan untuk menjaga agar tingkat retensi dan keterlibatan karyawan tetap tinggi, terutama seusai Lebaran. Platform seperti EngageRocket BELONG yang dilengkapi dengan berbagai fitur – mulai dari membuat survei, menganalisis hasil survei secara real time, mengirimkan pengingat bagi mereka yang belum mengisi survei di berbagai perangkat bagi karyawan, hingga laporan yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan.

Agar tingkat partisipasi survei tinggi dan hasilnya relevan, tim HR perlu memilih waktu yang tepat untuk mengadakan survei. Terlalu dini, kemungkinan masih banyak karyawan yang cuti. Sebaliknya jika terlalu lambat, ada kemungkinan employee engagement sudah terlanjur menurun.


5. Menjembatani komunikasi antar tim dan antar level

Komunikasi adalah kunci agar seluruh organisasi dapat bekerja dengan lebih baik lagi. Tim HR memegang peranan penting dalam menjaga komunikasi dalam organisasi – baik sesama kolega, karyawan dengan HR, maupun antar karyawan dan pimpinan – agar tetap lancar dan terhindar dari kesalahpahaman.

Untuk melakukan hal ini, tim HR dapat mengkaji ulang kebijakan perusahaan, regulasi dan SOP, serta fasilitas perusahaan supaya seluruh karyawan dari semua level merasa didukung dan dihargai dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing.

--

Perjalanan enam bulan ke depan adalah sebuah maraton, di mana tim HR dan para pimpinan perusahaan perlu memahami setiap titik yang akan dilewati. Tujuannya, agar seluruh karyawan tidak sekedar bekerja saja, tetapi dapat tercipta momen-momen yang tak terlupakan selama karyawan bekerja di perusahaan serta meningkatkan motivasi kerja karyawan demi menghasilkan performa bisnis yang memuaskan.

Baca lebih lanjut tentang cara menanggulangi atrisi di masa transisi kembali WFO dengan laporan terbaru kami. Download di sini



Tags: Employee Experience, Indonesia