Menghadapi Potensi Resign Massal Pasca Lebaran Demi Keberlangsungan Bisnis

By PeopleFirst on March 21, 2022

Sudah menjadi rahasia umum bahwa iming-iming bonus dan tunjangan hari raya (THR) kerap kali menjadi alasan karyawan menunda pengunduran diri dari perusahaan. Sebaliknya, jumlah karyawan yang mengajukan resign cenderung melonjak setelah perusahaan membagikan THR maupun bonus akhir tahun.

Sebelum pandemi COVID-19, tercatat hampir 10% tenaga kerja Indonesia mengundurkan diri selepas momen Lebaran. Bahkan jika sudah merasa tidak betah dengan situasi kerja pun, karyawan memilih untuk bertahan setidaknya sampai THR cair. Keputusan ini dirasa lebih bijak karena resign sebelum menerima THR berarti kehilangan penghasilan tambahan.

Selain karena THR, faktor ketersediaan peluang kerja yang lebih menjanjikan juga menjadi penyebab banyaknya karyawan yang mengundurkan diri setelah Lebaran usai. Apalagi seiring dengan perbaikan situasi setelah pandemi, banyak perusahaan yang kini aktif merekrut kandidat berkualitas dan berpengalaman. Sejalan dengan hal tersebut, kepercayaan diri karyawan pun kembali meningkat terkait pencarian dan perolehan kerja. Dan jika tahun ini situasi new normal yang ditetapkan pemerintah membawa efek positif bagi perekonomian, besar kemungkinan jumlah karyawan yang mengundurkan diri setelah Lebaran akan terus naik hingga tahun-tahun mendatang.

 

Tantangan yang muncul akibat pengunduran diri massal di momen Lebaran

Setidaknya terdapat dua tantangan yang harus perusahaan hadapi terkait tren pengunduran diri massal ini, yaitu proses rekrutmen karyawan baru dan kecepatan proses tersebut:

1. Proses rekrutmen karyawan baru

Pengunduran diri karyawan memberikan PR bagi perusahaan untuk sesegera mungkin mencari karyawan pengganti dengan kualifikasi yang sama atau lebih tinggi. Mulai dari memasang iklan lowongan pekerjaan, wawancara HR dan user dengan beberapa kandidat, negosiasi gaji dan benefits, hingga proses orientasi dan pelatihan karyawan baru – studi menunjukkan bahwa proses pergantian karyawan seperti ini dapat memakan biaya hingga dua kali lipat dari gaji tahunan karyawan.

2. Kecepatan rekrutmen karyawan pengganti

Tidak dapat dipungkiri bahwa proses rekrutmen dapat berlangsung cukup lama. Belum lagi jika karyawan pengganti harus memberikan one-month notice atau bahkan lebih di perusahaan sebelumnya. Ketika hal ini terjadi, biasanya manajemen akan menuntut karyawan yang lain untuk turut andil mengerjakan tugas dan memenuhi tanggung jawab mantan koleganya yang sudah resign, sambil tetap menjalankan porsi kerjanya sendiri. Apabila hal ini berlangsung cukup lama dan tidak segera diatasi, karyawan berisiko mengalami stres dan jenuh, sehingga besar kemungkinan terjadi efek domino, di mana karyawan yang tersisa akan terpanggil untuk ikut mengundurkan diri juga.

 

Bagaimana organisasi dapat mengurangi risiko resign massal setelah Lebaran?

Pencegahan sporadis yang hanya dilakukan di momen-momen hari raya saja tidaklah cukup untuk mencegah pengunduran diri massal. Sebaliknya, organisasi perlu proaktif melakukan berbagai pendekatan sepanjang tahun demi meningkatkan keterlibatan dan retensi karyawan serta menurunkan intensi resign secara keseluruhan.

Sangat penting untuk membuat rencana aksi yang solid dan matang agar organisasi mampu mengurangi tingkat pengunduran diri karyawan. Untuk menyusun rencana aksi tersebut, organisasi dapat mengadakan employee engagement survey (EES) atau pulse survey, kemudian memanfaatkan data dan hasil dari survei-survei tersebut.

Yang perlu diingat adalah pentingnya mengadakan survei tersebut secara rutin sepanjang tahun, bukan hanya menjelang hari-hari besar saja. Hal ini karena tingkat keterlibatan karyawan bersifat dinamis dan terus berubah mengikuti situasi perusahaan, situasi ekonomi, serta situasi pribadi setiap individu. Oleh karena itu, survei sebaiknya diadakan rutin dan bukan hanya sekali-sekali saja.

Mengadakan EES ataupun pulse survey secara rutin akan memberikan berbagai dampak positif bagi organisasi. Salah satunya, tim HR dan manajemen akan mampu mengidentifikasi faktor pendorong keterlibatan karyawan yang sespesifik mungkin dan sesuai dengan situasi organisasi terkini. Selain itu, tim HR dan manajemen juga dapat memantau sentimen karyawan dari waktu ke waktu, mendeteksi area perbaikan yang paling krusial, memantau tanda-tanda karyawan ingin resign, mengambil tindakan sesuai skala prioritas, dan lain sebagainya.

Selain itu, pengadaan survei secara rutin akan membantu tim HR dan pimpinan untuk mengambil keputusan yang efektif dan efisien berdasarkan data riil. Inilah mengapa pengumpulan data lewat survei merupakan langkah pertama untuk membangun budaya kerja yang sehat, positif, dan menyenangkan. Karyawan menjadi semakin betah bekerja serta bersemangat untuk mengembangkan kemampuan pribadi dan profesionalnya. Perusahaan pun akan melihat peningkatan yang signifikan dan hasil yang positif dari segi bisnis.

Meskipun survei memberikan banyak manfaat, nyatanya banyak organisasi yang merasa kesulitan mengadakan EES dalam skala besar. Hal ini terutama terjadi di perusahaan dan badan negara dengan jumlah tenaga kerja yang mencapai ratusan hingga ribuan karyawan. Oleh karena itu, berbagai perusahaan besar di dunia dan di Indonesia memilih untuk memanfaatkan platform yang dapat diotomatisasi, seperti EngageRocket, untuk menggelar EES secara rutin.

Penggunaan platform ini akan sangat membantu organisasi untuk mengumpulkan data, terutama bagi organisasi yang belum pernah mengadakan EES atau pulse survey sebelumnya. Baik sentimen karyawan secara individual maupun sentimen organisasi secara keseluruhan dapat diukur secara real-time. Tidak hanya itu, organisasi juga akan memperoleh masukan yang relevan dari platform mengenai tindakan apa yang dapat dilakukan tim HR dan manajemen untuk meningkatkan keterlibatan karyawan.

Platform seperti EngageRocket membantu berbagai organisasi untuk mengadakan EES dan pulse survey sebanyak mungkin sesuai kebutuhan, tanpa biaya tambahan. Hal ini tentunya dapat membantu efektivitas kerja tim HR, karena tingkat keterlibatan dan moral karyawan dapat diukur dan dipantau dengan lebih mudah. Tim HR dan manajemen dapat mengatur pertanyaan survei, meng-upload daftar karyawan, mengadakan survei sesuai skala yang diinginkan, serta menganalisis hasil survei dengan cepat dan praktis – semuanya dalam satu platform.

EngageRocket telah membantu berbagai perusahaan di Indonesia, baik perusahaan BUMN maupun swasta, untuk mengukur serta meningkatkan keterlibatan karyawan. Tokopedia, Gojek, PT Pelabuhan Indonesia (PT Pelindo), PT PAL Indonesia, serta PT Bank Central Asia Tbk merupakan beberapa perusahaan ternama yang telah berhasil meningkatkan keterlibatan karyawannya bersama EngageRocket, sehingga mampu menjaga retensi karyawan baik di momen-momen rawan pengunduran diri seperti Lebaran, maupun ketika bisnis berjalan seperti biasa (business as usual).

Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara meningkatkan retensi karyawan sebelum maupun sesudah Lebaran, download laporan terbaru kami ‘Meningkatkan Retensi Karyawan di Tengah Fenomena Global The Great Resignation’.

 

Tags: Employee Experience, Indonesia