Tantangan SDM Indonesia, Siapkah Berubah di Masa Pandemi COVID-19?

By PeopleFirst on August 5, 2021

Suka tidak suka, pandemi COVID-19 membawa perubahan yang amat signifikan dalam kehidupan kita. Jika dulu kita begitu mudah bersosialisasi, rajin berkumpul di luar rumah, kini semuanya terpaksa dibatasi demi mencegah penularan virus Corona (COVID-19). Saat beraktivitas di luar rumah pun, masker menjadi benda yang wajib kita kenakan (tak hanya satu, bahkan harus dobel).

 

Perubahan yang signifikan tentunya terjadi juga di dunia kerja. Salah satu yang paling terasa adalah penerapan Work From Home (WFH), di mana hampir semua perusahaan mengarahkan karyawannya untuk bekerja dari rumah. WFH menjadi sebuah keniscayaan di era pandemi COVID-19 untuk memastikan pekerjaan tetap bisa berjalan, selagi keamanan dan kesehatan karyawan terjaga.

 

Perubahan yang terjadi akibat pandemi COVID-19 jelas memengaruhi kinerja karyawan. Mengingat bahwa karyawan merupakan aset terpenting organisasi, maka kita sebagai pimpinan SDM dan lini manajemen harus bijak menyikapi perubahan tersebut. Pertanyaan yang kemudian perlu dijawab adalah bagaimana pimpinan melihat perubahan yang terjadi dan apa saja yang perlu mendapat perhatian khusus?

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, EngageRocket mengadakan sebuah webinar bertajuk “Building Indonesia Workforce for Post COVID-19 Recovery” pada hari Kamis, 29 Juli 2021. Aristiwidya Bramantika (Former Global Head of EX and People Science Gojek), Thomas Suhardja (Chief Human Capital Halodoc), dan Ripy Mangkoesoebroto (People & Culture Director of PT HM Sampoerna Tbk.) hadir sebagai panelis dalam panel diskusi tersebut. Ketiga praktisi di bidang SDM ini membagikan pandangan dan pengalamannya menghadapi segala ketidakpastian selama masa pandemi COVID-19.

 

Pengaruh pandemi COVID-19 terhadap organisasi

Kondisi pandemi yang penuh dengan perubahan membawa organisasi menghadapi krisis, baik dari sisi organisasi maupun sisi karyawan yang bekerja pada organisasi tersebut. Dalam kondisi krisis, biasanya “wajah asli” kita akan terlihat.

 

Perubahan akibat pandemi pada akhirnya membuka kesadaran organisasi akan keberadaan sebenarnya. Organisasi akan mengetahui apa yang sesungguhnya menjadi kekuatan maupun kelemahannya. Berangkat dari hal tersebut, organisasi dapat menemukan kejelasan akan apa yang paling penting dan harus diperjuangkan sebagai sebuah tujuan bersama.

 

Hal yang kemudian harus kita perhatikan adalah bagaimana menemukan esensi tujuan organisasi. Pimpinan SDM harus melakukan Inisiatif -inisiatif untuk mengkomunikasikannya kepada seluruh karyawan sehingga tujuan tersebut benar-benar dipegang teguh untuk dicapai bersama-sama.

 

Dalam situasi seperti sekarang, ternyata terkuak bahwa hal terpenting yang harus diperhatikan organisasi adalah rasa aman (safety). Seiring dengan merebaknya COVID-19, kondisi mental seseorang sangat mungkin menjadi tidak stabil karena berkurangnya rasa aman. Situasi ini mendorong organisasi harus lebih menyadari pentingnya kesehatan mental karyawannya.

 

Tak hanya itu, kondisi pandemi yang serba tidak pasti juga pada akhirnya mendorong organisasi untuk lebih menyadari apakah kita cukup luwes untuk pivoting atau mengubah arah dan beradaptasi. Pimpinan yang baik akan mampu melakukan hal tersebut, terutama dalam kondisi bisnis yang mendapat tekanan dari berbagai arah.

 

Hal yang juga tak kalah penting untuk disadari adalah semakin meningkatnya kebutuhan akan proses digitalisasi. Intervensi teknologi dalam organisasi menjadi penting untuk menjawab kebutuhan kerja yang mau tidak mau, kini tak bisa terus menerus mengandalkan kontak fisik. Oleh karenanya, organisasi perlu berinvestasi pada teknologi. 

 

Thomas Suhardja mengingatkan kita untuk turut menaruh perhatian pada pengguna teknologinya. Teknologi memang penting, namun lebih penting lagi menyiapkan orang atau pengguna yang mampu memberdayakan teknologi tersebut. Untuk itulah, EngageRocket hadir menyediakan teknologi yang memberikan solusi pengembangan organisasi di masa sekarang, dengan didukung oleh para profesional yang ahli memanfaatkan teknologi tersebut.

 

Menentukan prioritas fokus selama pandemi COVID-19

Setelah memahami pengaruh yang dibawa oleh pandemi COVID-19 terhadap organisasi, selanjutnya kita perlu menentukan prioritas fokus kerja pimpinan SDM. Prioritas utamanya terletak pada:

 

1. Employee wellbeing (Keseimbangan Rohani dan Jasmani Karyawan)

Kesejahteraan karyawan menjadi prioritas paling utama dalam menghadapi kondisi pandemi COVID-19. Kesejahteraan ini bukan sekadar berbicara soal kestabilan pendapatan, melainkan juga keamanan, keselamatan, dan kesehatan karyawan. 

 

Saat ini, organisasi diharapkan harus lebih mampu menjamin hal tersebut, apalagi jika ada karyawan yang terpapar COVID-19. Pimpinan harus memiliki empati dan sensitivitas tinggi agar mampu menunjukkan perhatian yang tulus kepada karyawannya. Pimpinan yang baik juga harus luwes memanfaatkan berbagai channel yang berbeda untuk terkoneksi dengan karyawan. Ada baiknya sebagai pimpinan, kita pun keluar dari ruangan untuk lebih sering mengobrol dengan user dan karyawan.

 

2. Productivity (Produktivitas)

Apabila ingin tetap mampu bertahan bahkan berkembang di tengah pandemi ini, organisasi harus bisa menjaga dan meningkatkan produktivitasnya. Produktivitas pada dasarnya akan meningkat seiring dengan naiknya loyalitas dan keterlibatan karyawan. Loyalitas dan keterlibatan itu sendiri akan meningkat saat karyawan memahami bahwa kesejahteraannya dipedulikan dan dijamin oleh organisasi.

 

Pimpinan SDM harus bisa memformulasikan inisiatif-inisiatif untuk meningkatkan produktivitas karyawannya. Organisasi sepatutnya mendukung karyawan untuk berkembang sehingga mereka bisa tetap relevan dengan tantangan terkini. Mengadakan pelatihan, mengedepankan ide dan inovasi, menciptakan kenyamanan lingkungan kerja, maupun menerapkan sistem pelaporan yang lebih reliabel adalah beberapa caranya.

 

3. New way of working (Cara baru bekerja)

Dalam berorganisasi kita juga juga perlu memprioritaskan kenormalan baru untuk menyesuaikan kondisi yang terus berubah. Hal tersebut umumnya meliputi pengembangan cara berpikir dan keterampilan baru, menerapkan strategi baru untuk menilai kinerja karyawan saat WFH, mengadakan pelatihan pimpinan SDM, dan intervensi teknologi

 

Aristiwidya Bramantika menjelaskan resilience theory sebagai sebuah set keterampilan yang sebaiknya dimiliki organisasi. Teori tersebut mengedepankan lima hal, yakni:

  1. Recovery (Pemulihan): kemampuan untuk memulihkan diri.
  2. Optimism (Optimisme): kemampuan untuk tetap melihat segala potensi yang mungkin untuk dicapai.
  3. Self eficacy (Kepercayaan diri): kepercayaan bahwa kita bisa melewati, bahkan melampaui kondisi krisis.
  4. Emotional processing (Kemampuan emosional): kemampuan untuk memproses emosi, memahami apa yang sedang dihadapi, apa yang sedang dirasakan.
  5. Social supporting (Dukungan sosial): keyakinan untuk mengandalkan dukungan sosial, misalnya berkomunikasi dengan seluruh karyawan dan menormalisasi kesehatan mental.

 

Tips menghadapi tantangan SDM di masa pandemi COVID-19 

Banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk menjawab tantangan SDM di masa pandemi COVID-19. Terdapat beberapa tips dari para praktisi yang bisa kita terapkan dalam organisasi.

 

1. Thomas Suhardja mengedepankan pentingnya kemampuan pimpinan SDM untuk membuat perubahan dan memberi pengaruh kepada karyawannya. Pimpinan harus bisa berada di garda terdepan untuk mendorong karyawan terus terlibat dengan perusahaan, selagi tetap bisa memberikan perhatian kepada keluarganya. Tak sekadar terus membahas pekerjaan, biasakan untuk menanyakan kabar personal, menanyakan keluarga karyawan.

2. Ripy Mangkoesoebroto menyebut care atau perhatian sebagai hal esensial yang perlu dimiliki pimpinan SDM. Pada dasarnya pimpinan SDM harus memiliki empati dan perhatian terhadap karyawannya, melampaui diri sendiri. Ripy menyebut bahwa seorang pemimpin harus punya 3V, yakni: Vision atau pandangan ke depan, Valor atau keberanian, dan Versatile atau serbaguna.

3. Aristiwidya Bramantika mengingatkan kita untuk kembali menyadari bahwa krisis adalah sebuah peluang. Kita juga perlu menyadari potensi kita sebagai orang Indonesia yang begitu guyub, senang bergotong royong. Beranilah untuk merasa tidak mampu dan meminta dukungan dari anggota tim.

 

Untuk melengkapi kesiapan dalam menjawab tantangan SDM di era yang dinamis, EngageRocket menawarkan solusi yang paling mudah dijangkau untuk membantu organisasi memahami situasi kerja saat ini di tempat kerja. EngageRocket siap membantu pimpinan bisnis dan SDM untuk memahami penggerak produktivitas dan keterlibatan karyawan di berbagai organisasi. Silakan kontak Audi Lumbantoruan untuk memahami EngageRocket dengan lebih baik.

Tags: Remote Work, Employee Experience