Meningkatkan Motivasi Tenaga Kesehatan Selama Pandemi

By PeopleFirst on April 8, 2022

Sejak awal pandemi COVID-19, sektor kesehatan telah mengalami gejolak yang luar biasa. Selain ancaman kesehatan yang harus dihadapi karyawan garis depan, organisasi kesehatan juga tetap harus memenuhi tuntutan dan kewajiban untuk pengembangan bisnis, menjaga motivasi karyawan di tengah kejenuhan dan kelelahan bekerja, serta memberi dukungan ketika ada karyawan yang menderita COVID-19, atau bahkan gugur dalam tugas.

Lantas, bagaimana langkah organisasi di sektor kesehatan dalam meningkatkan retensi serta motivasi kerja karyawan selama pandemi? Bagaimana pengaruh pandemi berkepanjangan terhadap keterlibatan karyawan yang kerap menurun sejak tahun pertama?

Pada hari Rabu, 31 Maret 2022, EngageRocket mengadakan webinar bertajuk Building Employee Motivation Through Employee Experience in Healthcare untuk menjawab pertanyaan tersebut. Webinar ini mengundang Effendi Ibnoe (Member of Nomination, Remuneration and Governance Committee – PT Medikaloka Hermina Tbk), Emilia Rouli (Corporate Human Capital Director – Bundamedik Healthcare System), dan Thomas Suhardja (Chief of Human Capital – Halodoc).

Ketiga pemimpin industri kesehatan Indonesia ini membagikan pengalaman dan praktik baik employee experience yang telah mereka jalankan selama pandemi dua tahun terakhir, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan audiens terkait sektor kesehatan pasca pandemi.

Employee experience dalam sektor kesehatan di Indonesia

Menurut Effendi Ibnoe, tingkat keterlibatan terendah di sektor kesehatan di Indonesia terjadi pada bulan Juli 2021, di mana kasus varian Delta mulai meningkat drastis, sehingga mengakibatkan stres berat, jenuh, serta kelelahan dalam bekerja. Padahal, keterlibatan karyawan (employee engagement) sangat berpengaruh terhadap employee experience (EX). EX sendiri akan meningkatkan produktivitas dan retensi karyawan, sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan revenue perusahaan hingga lima kali lipat.

Sementara itu, terkait tenaga kesehatan, EX sangat memengaruhi kesehatan fisik dan mental dokter, perawat, dan nakes lainnya. EX yang positif akan menghasilkan perilaku kerja yang semakin baik. Hasilnya, tim nakes dan karyawan lain dengan ikhlas bekerja dan memberikan pelayanan prima, sehingga pasien pun puas dengan perawatan yang diterima. Oleh sebab itu, tim HR sejatinya kini perlu beralih untuk fokus meningkatkan EX.

Di sisi lain, Emilia Rouli menyampaikan tantangan yang dihadapi rumah sakit selama setahun ke belakang. Tantangan ini meliputi strategi COVID-19 dan pasca pandemi; berkurangnya jumlah pasien non-COVID; keamanan dan proses perawatan pasien; tuntutan digitalisasi, regulasi, dan standarisasi; target dan finansial perusahaan; hingga reputasi dan fundamental perusahaan.

Menurutnya, EX adalah salah satu kunci untuk menjawab semua tantangan tersebut. Beliau pun membagikan langkah-langkah yang telah ditempuh untuk meningkatkan EX di seluruh organisasi BMHS:

  • Berinvestasi di perencanaan EX
  • Mendorong rasa keterlibatan dan kepemilikan
  • Menggenjot pelatihan, penilaian, dan peningkatan karir karyawan
  • Menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel dan mendukung digitalisasi

Secara umum, organisasi perlu memprioritaskan karyawan dan memperlakukan mereka seperti pelanggan atau pasien. Dengan berinvestasi pada EX, perusahaan akan memperoleh keuntungan seperti loyalitas karyawan, produktivitas meningkat, kolaborasi yang baik antar karyawan, hingga kesehatan karyawan yang terjaga.

Terkait pandemi, Thomas Suhardja juga menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi Halodoc – layanan drive-thru yang membludak, pekerjaan yang menumpuk di karyawan garis depan, pengembangan produk, dan lain sebagainya. Halodoc sendiri memanfaatkan tantangan-tantangan tersebut untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif, menggelar focus group discussion (FGD), serta mengadakan survei karyawan untuk mencari tahu apa motivasi kerja karyawan. Tujuannya adalah agar organisasi mampu memberikan apresiasi yang sesuai dengan motivasi tiap-tiap karyawan.

Dari data yang terkumpul, ditemukan beberapa motivasi utama karyawan yang meliputi perbaikan proses internal, fasilitas kerja yang lebih mumpuni, peningkatan benefit, hingga belajar hal-hal baru.

Langkah-langkah yang telah ditempuh sektor kesehatan Indonesia sejak awal pandemi

Di tahun pertama pandemi, rumah sakit dan organisasi kesehatan lainnya sama sekali belum tahu apa yang harus dilakukan. Teori praktik baik pun tidak berlaku karena organisasi butuh data untuk melihat apakah teori yang umum digunakan dapat diaplikasikan. Keamanan nakes menjadi prioritas utama, tetapi karyawan back office pun ikut mengalami stres kerja. Padahal, jumlah pasien membludak dan mereka tidak bisa menunggu untuk mendapat perawatan.

Tahun kedua pandemi, dengan gelombang dua dan tiga, organisasi telah lebih siap mengantisipasi masalah yang mungkin muncul; mengelola kesehatan mental karyawan, terutama nakes; memberikan fleksibilitas kerja WFH, WFO, atau hybrid; mengadakan webinar untuk kesehatan mental dan pembelajaran; serta mendorong proses digitalisasi. Semuanya bertujuan untuk meningkatkan employee experience, yang berujung pada peningkatan kualitas pelayanan bagi pasien.

Organisasi juga mengedepankan transparansi dengan cara mengadakan town hall meeting rutin, menyediakan wadah untuk menampung masukan karyawan, dan menempatkan diri sebagai teman karyawan. Hal ini dinilai dapat meningkatkan keterlibatan karyawan serta memberi dukungan di masa-masa sulit.

Sementara itu, dokter, perawat, dan nakes lainnya juga terpantau mengalami kejenuhan dan kelelahan bekerja selama 12 bulan terakhir, bahkan ketika pemerintah sudah memberi kelonggaran terkait COVID-19. Karena itulah, organisasi memberikan dukungan dan bantuan ekstra untuk para pekerja garis depan, yaitu dengan cara mengembangkan teknologi agar pekerjaan lebih efisien, membagikan makanan dan vitamin, mengadakan sharing session untuk berbagi keluh kesah, hingga memberikan insentif ekstra.

Tantangan serta persiapan pasca pandemi dan Lebaran

Sebagai penutup, ketiga panelis membagikan pesan bahwa talent war masih berjalan, walau sudah mulai stabil. Karyawan mulai melihat bahwa pandemi tidak menutup peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik. Namun, organisasi dengan EX yang kuat pasti akan mampu mempertahankan karyawan dan mendapat penilaian positif dari karyawan yang sudah resign sekalipun, sehingga pencarian karyawan dan rekrutmen tidak menjadi masalah besar.

Perusahaan juga perlu menaruh perhatian terhadap karyawan berkinerja tinggi untuk tahu tingkat keterlibatan mereka serta mencegah munculnya tanda-tanda ingin resign. Pendekatan ini perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat ada masalah saja atau musiman seperti saat mendekati momen Lebaran seperti saat ini. Sebanyak 62% praktisi HR yang berpartisipasi cukup yakin bahwa tingkat keterlibatan karyawan akan menurun selepas pembagian THR.

Namun, salah satu tantangan yang organisasi hadapi adalah tidak adanya tools yang mumpuni untuk menilai keterlibatan dan sentimen karyawan. Pertama-tama, tidak sembarang platform survei cocok digunakan untuk mengadakan pulse survey atau employee engagement survey. Seringkali kegunaan sebuah platform survei berhenti saat survei telah digelar. Nyatanya, penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi employee experience. Kedua, banyak tools yang sulit digunakan sehingga menyita waktu berharga tim HR. Terakhir, beberapa servis menawarkan biaya yang sangat tinggi untuk 1 kali survei saja.

Karena itulah EngageRocket hadir dengan solusi holistik supaya karyawan merasa terlibat dari hari pertama kerja di perusahaan Anda. Dengan EngageRocket, tim Anda dapat dengan mudah melakukan pengaturan survei, mengumpulkan data secara instan, menganalisis hasil dengan mendetail, serta memberdayakan manajer dengan rekomendasi yang relevan.

Untuk menonton rekaman webinar ‘Building Employee Motivation Through Employee Experience in Healthcare’, klik di sini.

 

Tags: Employee Experience, Indonesia